Thursday, 11 August 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Ketujuh

Depok Dalam Lipatan Sejarah.... Siri Ketujuh

'CINTA & BUKU'

Nukilan: Samsul Kamil Osman

“Seandainya pohon-pohon bisa bicara, tentunya ia bakal menjerit dan merintis kerana terluka diusik rasa, seadainya fauna liar bisa diajak bicara, tentu sekali dia akan menjerit kerana hatinya dicuit kerana cintanya lara.....” itulah antara bait-bait puisi indah yang sempat ku rakam ketika jalan melintasi Gedung Sub-Akademik ke Gedung Perpustakaan Fakultas Sastra. Sudah menjadi rutin biasa anak-anak mahasiswa Fakultas Sastra menggunakan masa yang tersisa, selain nongkrong di kantin sambil berbuat kosong dan minum bersama, juga melahirkan ekspresi dengan nada, bahasa dan gaya sambil berpuisi meluahkan rasa....

Mahasiswa manggung di ‘Kolam Sastra FSUI’ Aku masih penasaran.....ingin mencari dan terus mencari apa sebenar istimewanya di sebalik ungkapan ‘Pesta, buku dan cinta’ di kampus tercinta. Lalu ku cari jawapannya dengan memahami dan menyelami cara hidup anak-anak mahasiswa di kampus yang baru ke kenal ini.

Fakultas Sastra Universitas Indonesia atau lebih akrab dengan jolokan FSUI di kalangan mahasiswanya (kini dikenali sebagai Fakultas Ilmu Budaya UI), merupakan antara fakultas di UI yang tidak hanya mendidikan mahasiswa dengan disiplin ilmu yang ada, tapi juga melahirkan mahasiswa yang dekat jiwanya dengan dunia sastra, karya dan berekspresi mencurah rasa menzahirkan suara berbagi rasa melahirkan citra bangsa merdeka. Berada di kampus, membuatkan aku tak terasa masa-masa yang berlalu menjalar waktu. Mana tidaknya, dunia kampus penuh dengan citra, penuh dengan warna-warna kehidupan, warna-warna yang mencorak mahasiswa penuh dengan keazaman, warna-warna mahasiswa yang sentiasa mengejar ilmu tanpa ada batas ruang, masa dan ketika....

Di kampus ini mahasiswa mengenal dan mencari ‘cinta’....cinta yang tak terbatas, cinta yang tak pernah tuntas....cinta yang menjadi tunas....cinta yang tak kenal erti tewas ....cinta yang membakar jiwa dan rasa.....cinta yang mengangkat citra....cinta yang abadi....cinta yang menjelmakan duka jadi bahagia, sedih jadi gembira, racun jadi ubatnya, lemah jadi hebat....Cinta yang menukar fantasi menjadi realiti......

Di kampus ini buku menjadi ‘bumbu’ cinta yang sejati. Antara mahasiswa dan buku tak akan pernah ada garis yang memisahkan. Buku adalah rakan yang paling akrab dan menjadi teman yang tak pernah lelap.....walau mata pejam sekejap....namun buku terus didakap....celik mata buku ditatap....meneroka ilmu terus menggarap.....memimpin minda menjadi cekap....dapat menjana akal yang hebat.

Afandi Lubis (Almarhum al-fatihah).....tiba-tiba terlintas dibenak fikiranku nama itu bila bicara tentang buku. Afandi adalah teman yang banyak mendidik untuk aku kenal dan menghargai bahawa buku dan mahasiswa itu adalah satu. “Buku itu ibarat cinta dan kasih sayang, cinta dan kesetiaan,”itulah antara kalimat yang pernah Andi ucapkan padaku. “Sam....kau mula dari sekarang harus punya cinta yang kuat pada buku, kalau mau jadi orang yang berilmu,” antara pesan yang pernah Andi titipkan buatku. Andi adalah rakan yang sering ‘main’ di kostku setelah selesai kuliah di kampus. Setiap hari kami akan membaca bersama dan kemudian membahas kembali isi buku yang dibaca. Adakalanya masa yang berlalu tak terasa, makan minum menjadi lupa bila asyik mengupas bicara..isi buku terasa lebih bermakna. Hari-hari yang berlalu membuatkan aku sangat terleka, membaca dan mengupas isi buku menjadi sangat teruja...hari-hari yang berlalu seperti tak terasa...cintakan buku sangat bermakna....

Buat temanku Afandi Lubis, semoga engkau sejahtera di sana. Semoga Allah s.w.t mencucuri rahmatNya dan menempatkanmu di kalangan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya dirimu sungguh istimewa, jasamu tak akan pernah aku lupakan, tafsir al-Quran hadiahmu masih ku simpan...menjadi santapan mendekat diri kepada tuhan.

Kini aku tahu......buku adalah cinta....buku membuka mata...buku menjadi citra...mengajar dan memdidik manusia...menyeru dan mencorak kita...akan terbuka minda menjadi orang yang terpelajar....meneraju masa depan dengan jaya....agar mencapai mercu jaya.....

Terima kasih UI.....

Wednesday, 10 August 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Keenam

Depok Dalam Lipatan Sejarah

Nukilan: Samsul Kamil Osman

Pagi ini tak seperti pagi-pagi biasanya yang aku pernah lalui. Entah mengapa aku begitu cepat sekali terjaga dan bangun dari tidur dengan penuh bersemangat. Pada hal malam tadi aku hanya dapat melelapkan mata setelah larut pagi. Banyak sekali yang bermain di benak fikiranku malam tadi, teringatkan ‘buah hati’ di tanah air, teringat kampung halaman yang baru aku tinggalkan...sampailah mengelamunkan ‘buah hati baru’ yang aku kenal semalam. Aku jadi tersenyum sendiri bila mengenangkan, betapa mudahnya aku jatuh hati di sini. Kecantikan dan rupa yang menawan anak-anak mahasiswi di sini telah mencairkan hatiku atau saja sebenarnya aku terlalu rindukan ‘si buah hati’ yang jauh di sana...

Aku tiba-tiba tergamam apabila terdengar pintu kamarku di ketuk kuat. Ketukkan itu seperti ingin mengejutkan aku untuk bangun dari tidur. Tiba-tiba kedengaran suara lembut seorang gadis...”Sam..Sam bangun...ayuh lah...nanti telat ke kampus lho”, jerit suara itu. Sepertinya aku kenal sekali suara itu...bukan Riries...ya bukan Riries...suara itu persis suara Aria Sari, teman sejurusanku, anak Sejarah 89, lalu aku intai lewat jendela untuk dapatkan kepastian, Seperti yang ku duga, aku lihat Aria Sari yang berkulit hitam manis tapi lincah, tercegat di depan pintu kamar ‘kost’ku. Aku mudah kenal kerana Aria bukan sebarangan, dia anak yang boleh berbahasa Belanda dengan baik, mana tidaknya...sambil ikut kuliah Sarjana Sejarah, dia juga ikut kuliah Diploma Bahasa Belanda di sebelah malam.

“Ayuh lah Sam, kita berangkat ‘bareng’ ya, aku senang sekali jalan-jalan ama kamu, kamu lucu,” Canda Aria sebaik aku membuka pintu kamar. Mendengarkan kata-kata itu, seperti biasa aku menjadi tersipu-sipu malu. Maklum sajalah, aku ini anak Melayu, orang Melayu memang sangat berbahasa dan pemalu orangnya. Mungkin saja itu menjadi satu sebab mengapa anak Indonesia, teman-teman kuliahku senang bersahabat dan mendekatiku. Aku jadi ‘geer’ lagi, bila mengenangkan itu. Lalu aku capai ‘tas’ dan menyarung sepatu lalu kami bergerak melangkah ke kampus.

“Kamu asyik ya, dapat kost di Gang Masjid, di sini ‘adem’ lho,” tiba-tiba Aria bersuara memecah kebuntuan. Aku mengerutkan dahi....”Ohh ya, maksudku udara di sini segar..sejuk..cool,” Aria menjelaskan kata-katanya. Sepertinya dia dapat membaca bahawa aku tak dapat mengerti maksud kata-katanya sebelum itu. Memang sukar sekali bagi aku ketika itu untuk mengerti dengan tepat apa yang disampaikan oleh teman-teman terutama apabila berada di lingkungan kampus dan kost yang rata-ratanya menggunakan bahasa ‘prokem’ (bahasa rojak), apalagi bila ada yang menggunakan bahasa Jawa atau juga Betawi. Rasanya aku memerlukan masa untuk beradaptasi dan ternyata menguasai bahasa Indonesia itu tidak semudah seperti yang aku duga sebelum ini.

Sampai di Jalan Margondaraya, kami berhenti seketika untuk melintas. Pagi itu kenderaan atau tepatnya angkotan dan bis sibuk ke hulu dan ke hilir. Kedengaran suara ‘kenek’ terjerit-jerit memanggil dan mengarahkan penumpang untuk turun dari bis. “Pasar Minggu...Pasar Minggu....Lenteng Agung...Lenteng Agung..Depok...Depok...kiri...kiri...kiri..’” antara suara-suara nyaring yang dapat aku rakam ke telinga keluar dari mulut abang ‘kenek”. “Lucu ya Sam, kau tau gak kenapa ‘Si Kenek” nyebut ‘kiri..kiri..kiri?,” Tanya Aria untuk kepastian. Aku jawab dengan menggelengkan kepala. “Maksudnya..kalau mau turun bis, kita harus dengan kaki kiri dulu, terjun saja, bis gak berhenti lho, supir cuma perlahankan bis aja,” bersungguh Aria memberi penjelasan supaya aku faham. Aku jadi sipu dan tersenyum. “ Gak lucu...ahhh...senyum terus..., tapi manis juga ya senyum kamu’” Aria mengusikku. Aku jadi ‘geer’ lagi, mana tidaknya dapat pujian si gadis yang senyumanku itu ternampak manisnnya.

“Ayuh Sam, jalan lagi kosong,” Aria menarik tanganku untuk menyeberangi jalan. Di sebelah jalan terlihat Fina, Evi dan Wiwin melambai-lambaikan tangan menyapa kami. Fina, Evi dan Wiwin ini ibarat ‘tiga dara pingitan’ kalau di Malaysia. Mereka bertiga ini sering bersama-sama ke mana, di mana dan kapan saja, tak pernah berenggang. “ Sam, tumben kok elo berangkat bareng Aria, Zain mana?,” Tanya Fina seperti kehairanan. Mat Zain adalah anak Malaysia dari Kelantan yang sama di jurusan Sejarah danganku. “Zain kan ‘kontrak’ di ‘Prumnas Depok’ (Perumahan Nasional = Perumahan Awam kalau di Malaysia).” Aria menjawab bagi pihak aku.

“ Kamu curang ya Sam, baru sebentar tingalkan Malaysia udah cari pacar baru.” Tiba-tiba kata-kata itu terpantul keluar dari mulut Fina. Aku jadi tersipu malu. “Tak lah Fin, kebetulan Aria lalu dekat kost saya tadi, jadi kami jalan sama-sama lah..,” aku menjawab lalu disambut dengan gelak ketawa yang luar biasa dari Fina, Evi, Wiwin dan Aria. Aku faham, mereka ketawakan aku kerana masih belum dapat bertutur dalam bahasa Indonesia dengan baik. Masih ada loghat ‘Melayu’ yang masih pekat. “Kamu kalau ngomong lucu banget ya....aneh..banyak ‘e..’e..’e...nya, rada Melayunya masih kental sekali Sam,” Fina sekali lagi ‘ngeledek’ aku. Seperti biasa aku hanya mampu sipu tersenyum.

Sambil itu kami terus mengorak langkah berjalan menuju ‘halte’ di Stasiun UI untuk dapatkan ‘bis kuning’ membawa kami ke FSUI. Hari ini kuliah pertama Pengantar Ilmu Sejarah 1, dosennya Pak Soetopo (Almarhum Prof Dr. Soetopo Soesanto) antara dosen senior di Jurusan Sejarah menurut Fina. Aku jadi sangat teruja untuk mengikuti kuliah tersebut. Ini merupakan satu titik permulaan untuk aku mengejar impian menjadi seorang ‘Sejarawan’ suatu hari nanti....


Samsul Kamil Osman

10 Ogos 2011.

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Kelima

Depok Dalam Lipatan Sejarah

Nukilan: Samsul Kamil Osman

Deruman bunyi kenderaan begitu nyaring menyerusup masuk ke telingaku. Sebegitu nyaringnya sehingga menenggelamkan nyanyian unggas yang selalu aku rindukan. Kalau di kampung, setiap pagi aku tak akan pernah lepas untuk berhibur mendengarkan nyanyian unggas setiap kali bangun dari tidur sebelum memulakan hariku. Tapi...aku sudah tidak di kampung lagi, aku sudah jauh di perantauan, jauh di Tanah Seberang.

Sekali lagi lamunanku dikejutkan dengan deruman bunyi mesin kenderaan yang tidak mengembirakan kuping telingaku. Lalu mataku menjeling memandang ke arah susur jalan masuk ke kampus, tepatnya mencari tahu dari mana datangnya bunyi yang menganggu lamunanku. Mataku menjeling tepat ke Gerbang UI, di situlah merupakan pintu masuk utama ke kampus Universitas Indonesia, kampus kebanggaan kami. Lalu mata liarku melihat dengan penuh terkesina bagaimana kenderaan yang pelbagai rupa, dari ‘speda motor’, mobil sedan, mobil antik sehinggalah ke mobil mewah yang besar tersergam...menakjubkan. Itu sudah cukup memberi cerminan kepadaku, mahasiswa di sini punya pelbagai latar sosio-ekonomi....dari rakyat kecil hinggalah ke anak-anak golongan atasan yang mewah dan kaya raya.

Tiba-tiba mataku terpaku memandang sebuah kenderaan yang sentiasa dikejar-kejar oleh mahasiswa yang baru turun dari kereta api di stasiun UI. Dalam hati aku berbisik, ini rupanya ‘bis kuning’, bas yang disediakan oleh pihak universitas untuk menjemput dan menghantar mahasiswa ke fakultas masing-masing yang letaknya menyebar di sekitar kampus yang luas terbentang.

“Bis kuning’, kini aku faham...kuning merupakan warna keagungan Universitas Indonesia, ‘Jaket Kuning’ adalah jaket keramat mahasiswa UI, ‘Bis Kuning’ bas yang menjadi teraju utama menjemput dan menghantar mahasiswa ke tempat kuliah masing-masing. Di tambah lagi memang bas itu sendiri diwarnakan dengan warna kuning...teringat aku tentang kehebatan dan keagungan warna kuning kalau dikaitkan dengan Negara asalku Malaysia. Kuning adalah warna ‘Diraja’, warna yang melambangkan kedaulatan, kekuasaan dan keagungan. Jadi aku punya jawapannya, mengapa UI memilih warna kuning, sudah pasti warna ini mempunyai nilai ‘historisnya’ yang tersendiri. Pastinya UI ingin menjadi peneraju untuk melahirkan minda mahasiswanya yang berjiwa besar dan mengangkat martabat bangsa, agama dan negara.


Sekali lagi lamunan jauhku dikejutkan oleh sentuhan tangan yang menepuk bahuku...lalu aku menoleh kebelakang melihat siapakah gerangan yang ‘galak’ berbuat demikian. Rasa geram dan marahku menjadi lutur apabila melihat seorang gadis ayu dan bersahaja menghadiahkan senyuman manisnya sambil menyapa aku. “Kamu Samsul, anak Malaysia kan?, masih ingat aku...Riries anak jurusan sejarah juga”, sapaan si gadis manis itu yang membuatkan hatiku menjadi luluh. Kelembuatan suara dan manis senyumannya telah membuat hati ini sedikit terpesona dan tertawan....Aku mula teringat slogan “buku, pesta dan cinta”...hatiku mula berdetik...apakah ini langkah mula aku mengenal dunia kampus yang punya nilai ‘historis’ yang sedang aku gali itu...

Si gadis menghulurkan tangan untuk berjabat, sebagai tanda perkenalan atau juga untuk bersahabat denganku. Aku menjadi tersipu-sipu malu....malu untuk menyambut huluran tangannya yang terlihat sangat halus dan lembut. Sambil tersenyum aku sambut huluran itu lalu tangan saling bersentuhan dan kami berjabat mesra....degup jantungku berdetik seketika...gerumuhku tak terhindar bila kami saling berpandangan mata. Lalu cepat-cepat aku lepaskan tangan yang halus itu...sepertinya aku sudah mula ‘syok’ sendiri.....

Sekali lagi aku terserentak apabila Riries menarik tanganku untuk mengejar ‘bis kuning’ yang baru berhenti di ‘halte’ stasiun UI. “Ayuh lah Sam, nanti kita ketinggalan dan keburu lewat masuk kuliah” suara ajakan Riries kedengaran di kuping telingaku. Lalu aku berlari mengikut dari belakang gadis manis itu dan akhirnya kami dapat menyelinap masuk ke dalam ‘bis’. Keadaan menjadi sangat sesak dan himpit mengimpit terjadi....maklum saja ‘bis’ yang biasanya cuma memuatkan 30 penumpang, tapi telah di buang semua bangku di dalamnya membawa semau-maunya penumpang. Tak dapat ku pastikan berapa bilangan penumpangnya yang tepat, sehingga ada yang bergayut di tangga, seperti mau melayang ditiup angin apabila ‘bis’ bergerak.

Untung saja fakultas Sastra letaknya di perhentian yang kedua, jadi aku tidak perlu lama lemas dalam kesesakan’. “ Gimana Sam, asyik gak naik ‘bis kuning’, kuliah di Malaysia ada gak bis seperti ini ya”, tanya Riries untuk dapatkan kepastian dariku. Aku hanya tersenyum, masih malu untuk berkata-kata, bahasa Indonesiaku masih kurang lancar. Sepanjang jalan beriringan menuju mencari bilik kuliah, aku lebih banyak mendengar Riries bercerita dan kemudian, aku hanya senyum atau saja aku angguk tanda setuju atau gelengkan kepala tanda tidak pasti atau tak tahu. Aku masih teringat, pada hari pertama sesi pertemuan di jurusan dan apabila diminta memperkenalkan diri, anak-anak Indonesia teman sejurusan ketawa besar bila mendengar aku bertutur loghat bahasa Indonesia. “ Melayu banget kamu, bahasanya lucu ya”, sinis temanku Bingar, anak Surabaya sambil disambut dengan ketawa oleh rakan-rakan yang lain. Sejak itu aku jadi sangat malu untuk berkata-kata., takut nanti aku akan diketawakan lagi.

“Sam, sebentar lagi kita terus ke Gedung 4, kuliah pengantar Sejarah Indonesia, pengajarnya ibu Sudarini, kata senior kuliahnya asyik lho”, sekali lagi Riries menarik tanganku. Aku jadi malu-malu kucing, sebenarnya sangat senang diperlakukan seperti itu tapi malu kerna itu pengalaman pertamaku seperti itu. Sekali lagi hati ini terus berdetik....apakah ini yang dikatakan atau terjemahan sebenarnya maksud “buku, pesta dan cinta”.....Ahhh....jangan ‘geer’ mungkin ini sudah menjadi hal biasa di sini, pergaulan antara lelaki dan perempuan itu tidak terbatas seperti di Malaysia. Aku harus lebih faham itu, aku harus menjadi seorang yang realistik bukannya pemalu, aku harus lebih terbuka untuk menerima budaya baru sebagai mahasiswa di sini, di Tanah Seberang, di tempat yang tak pernah aku bermimpi untuk menjejakkan kakiku.

Hari ini bermulalah episode baru dalam hidupku, bukan sahaja menggelarkan diri sebagai mahasiswa di sebuah universitas yang ternama, tetapi juga hari pertama melangkah masuk ke bilik kuliah, melangkah dengan penuh bergaya untuk memenuhkan ilmu di dada. Ilmu yang bakal mengubah hidupku, mengubah masa depanku, mengubah impianku, mengubah fantasiku menjadi realiti. Aku bangga menjadi anak UI.......

Samsul Kamil Osman

9 Ogos 2011.

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Keempat

Depok Dalam Lipatan Sejarah

Nukilan: Samsul Kamil Osman

Terima kasih kepada tuhan Yang Maha Esa kerana masih memberi kekuatan dan kesempatan untuk aku terus menulis. Semoga Allah s.w.t akan sentiasa memberikan kekuatan dan ketajaman minda supaya aku dapat mengungkapkan kembali hal-hal yang istimewa dalam perjalananku sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia.

“Buku, Pesta dan Cinta”, slogan yang sangat popular kepada sesiapa sahaja yang pernah menjadi mahasiswa UI. Itulah slogan yang diperkenalkan kepadaku sejak hari pertama aku hadir di kampus tercinta, atau tepatnya pada hari pertama akan berkenalan dengan kehidupan sebagai mahasiswa UI. Secara kebetulan ketika itu kami sedang menjalani Majlis Penerimaan Mahasiswa Baru, tapi apa yang sangat terkesan, majlis itu tak ubah seperti majlis untuk ‘mengeroyok’ mahasiswa baru, istilah yang aku pinjam dari temanku Affandi Lubis(almarhun). Tapi bukan majlis itu yang nak aku imbas kembali, majlis seperti itu memang di manapun sama sahaja.

Aku sangat terkesan dengan slogan “buku, pesta dan cinta”, sepertinya ada sesuatu yang istimewa untuk lebih jauh mengenali cara hidup dan menimba ilmu di kampus tercinta ini. Lalu aku mencari tahu, dan cuba mengupas apa sebenarnya di sebalik slogan tersebut.

Slogan “buku, pesta dan cinta” sebenarnya sangat sinonim dengan kehidupan kemahasiswaan di kampus UI sejak dari era 1960-an. Slogan itu bahkan pernah menjadi bait dari lagu genderang UI, lagu kebanggaan anak-anak UI. Sejarahnya bermula kerana kehidupan sebagai mahasiswa ketika itu sangat diwarnai dengan semangat kebebasan. Di era itu mahasiswa bebas untuk berorganisasi dan berpendapat dengan semangat yang penuh berani. Puncak dari semangat untuk mengekspresikan kebebasan itu tercetusnya peristiwa “Malari” yang menyebabkan tokoh-tokoh mahasiswa merengkok dalam penjara.

Peritiwa ‘Malari’ (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah peristiwa demontrasi mahasiswa dan kerusuhan social yang terjadi pada 15 Januari 1974. Setelah peristiwa Malari, kehidupan kampus dipantau dan dibekukan.

.

“Buku, pesta dan cinta” sebenarnya sangat terkait rapat dengan sejarah kebangkitan perjuangan golongan mahasiswa di Indonesia. UI ketika itu menjadi tempat bertemunya pelbagai golongan lapisan masyarakat yang bakal menjadi peneraju bangsa Indonesia telah mengekspresi satu wadah perjuangan untuk membela rakyat yang terbelenggu oleh kemiskinan. Maka lahirlah slogan tersebut sebagai cara untuk mahasiswa mengekspresikan perjuangan mereka. Slogan itu menjadi sangat sebati dengan jiwa mahasiswa UI dan melalui slogan inilah mahasiswa UI menjadi satu dalam setiap gerak dan langkah mereka.

Antara tokoh terkenal yang lantang menerajui cara pemikiran mahasiswa kita itu ialah Soe Hok Gie, mahasiswa FSUI. Antara petikan tulisannya yang sangat terkesan ialah:

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia yang biasa.’ Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” (Soe Hok Gie)

“Buku, pesta dan cinta” pada dasarnya adalah cara pandang dan pola pergaulan mahasiswa yang menjadi asam garam kehidupan di kampus tercinta. Praktisnya, mahasiswa saling kenal dan bergaul akrab, dan kerana keakrapan itulah setiap mahasiswa tak pernah merasa adanya perbezaan taraf, darjat, bangsa dan asal mereka.

Slogan itu juga menjadi trend dan cara hidup mahasiswa di kampus. Selain aktiviti kuliah, kehidupan di kampus sangat diwarnai dengan pelbagai acara melambangkan “ buku, pesta dan cinta”. Tiada hari yang sepi tanpa diskusi, bedah buku, mendeklamasikan puisi, pementesan teater dan tak ketinggalan diselit dengan acara hiburan baik dalam bentuk moden maupun tradisional. Dunia kampus menjadi sangat meriah dan penuh dengan warna-warni termasuklah mencari dan memiliki pasangan uantuk mendapatkan ‘cintTren mahasiswa pasca reformasi telah merubahkan cara berfikir dan corak pergaulan mahasiswa berbanding era sebelumnya ketika UI berpusat di kampus Rawamangun. Kampus Depok yang lebih moden, lengkap dengan kemudahan dan pra-sarana yang canggih telah menukar cara mahasiswa menterjemahkan “buku, pesta dan cinta” mengikut era baru. Dominasi diskusi di kampus tidak lagi hanya berkait kepada hal-hal yang hanya berbau politik dan social masyarakat seperti era sebelumnya, tapi juga menular kepada ‘3F’ (food, fashion & film). Cara mengekspresikan ‘buku, pesta dan cinta’ tetap menjadi tren tapi berubah mengikut kesesuaian arus masa.

Samsul Kamil Osman

8 Ogos 2011.

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Ketiga

Depok Dalam Lipatan Sejarah

Nukilan: Samsul Kamil Osman

"Universitas Indonesia…Universitas Kami…Ibukota Negara Pusat Ilmu Budaya Bangsa…Kami Mahasiswa Pengabdi cita…Ngejar Ilmu perkerti Luhur Tuk Nusa dan Bangsa…” Lagu keramat yang menjadi sentiasa menjadi peniup semangat kepada sesiapa sahaja yang diterima menjadi mahasiswa UI. Universitas Indonesia…
kebanggaan besar bagi sesiapa saja yang berkesempatan ‘manggung’ di sini…Universitas Indonesia mempunyai nilai ‘historis’nya yang tersendiri dalam pengabdian bangsa Indonesia dalam dunia pendidikan. Setelah hampir seminggu berada di Jakarta, mengecapi nikmat hidup di kota Metropolitan penuh dengan kepelbagaian ragam manusia, hampir-hampir aku juga turut lemas dalam arus budaya baru ini.

Setelah selesai majlis orientasi pelajar baru anjuran Persatuan Pelajar-Pelajar Malaysia di Indonesia (PKPMI) cabang Jakarta dan Jabatan Penuntut Malaysia di Jakarta maka kami dihantar ke pusat pengajian masing-masing. Abang Lokman (Almarhum), Zali Abu Bakar dan Kak Jue antara nama kakak kelas kami di UI yang bertanggungjawab membawa kami mendaftar di Rektorat Universitas Indonesia. Masih aku teringat pesanan dari Abang Lokman sebelum kami berangkat mendaftar keesokan harinya, “esok sebaik saja waktu subuh, kita sudah harus bergerak ke Stasiun Keretapi Gambir”…kita harus ke kampus UI dengan keretapi, lebih cepat dan selamat, kalau dengan ‘bis’ bisa ‘macet’ kita di jalan”, pesan Abang Lokman.

Keesokannya aku paling awal bersiap, aku lihat teman-teman lain juga sudah siap sedia untuk berangkat, seingatku kami seramai 10 orang dari pelbagai jurusan aku dan Mat Zain anak Sejarah, Rizal Tawel anak Psikologi, Rizal Razak, Asri, dan seorang lagi yang aku lupa namanya anak Kedokteran Umum, Anis dan Nurul anak kedokteran gigi, kemudian Rahman & Zaimi anak teknik Mesin…

Seperti diduga, kami melalui pengalaman yang sangat teruja apabila sampai di Stasiun Keretapi Gambir. Kami terpaksa berlari-lari mengajar dan mencari gerabak yang kosong. Karena telah dingatkan sebelumnya oleh Abang Lokman, maka kami bergerak secara ‘kompak’ dan sentiasa memastikan kami tidak terpisah jauh. Akhir dalam lautan manusia yang pelbagai rupa dan kerana telah bersedia dengan pelbagai cara, kami berhasil menemukan gerabak yang sesuai. Tetapi dari satu stasiun ke satu stasiun sebelum sampai ke satsiun UI kalau tak salah perkiraanku ada hampir 10 perhentian.Suasana dalam gerabak keretapi sebelum sampai ke destinasi kami iaitu di stasiun UI memberi banyak pengalaman baru yang tak pernah ada dalam perkiraan kami sebelumnya. Suasananya tak ubah seperti dalam pasar, semua barang yang dijual di pasar ada dijual di dalam gerabak keretapi, ikan, sayur, telur, jeruk (buah limau), ayam, itik dan apa saja yang kita ingin dapatkan di pasar. Malah set kerusi meja dari bamboo juga diniagakan. Satu pengalaman yang tak pernah kita rasakan di Malaysia sebelumnya. “Berjualan di kereta itu ‘gratis’ lho, yang bawa dagangan juga ikut ‘gratis’ tak perlu beli ‘karcis’ untuk naik keretapi”, kata Fina teman baikku setelah mendaftar sebagai mahasiswa UI.

Akhirnya, dalam suasana yang penuh sesak dan sekian lama menahan rasa menghirup pelbagai bau-bauan yang luar biasa, kami sampai ke stasiun tujuan. “Stasiun UI, stasiun UI”…terdengar suara jeritan entah aku tak pasti dari siapa….mungkin juga pertugas keretapi. Kami rasa bagaikan terlepas dari satu siksaan, tapi mungkin juga satu pengalaman yang tak mungkin kami lupakan. Tapi terdetik kembali dalam hati, apakah selepas ini setiap hari aku harus melalui pengalaman seperti ini jika sudah tiba musim kuliah nanti. Hati mula jadi gundah- gulana, terasa sungguh berat cabaran yang harus ku lalui kalau harus seperti ini setiap hari.

Universitas Indonesia, kampus tercinta, aku datang bertamu rasa, menukar cita menjadi nyata, agar bisa menjadi bangga, dapat menjadi pelajar ternama, menjulang negara ke mercu jaya. Itulah ikrar dan lafas setia, sebelum aku melangkah masuk ke Universitas tercinta. Ingin menimba ilmu yang ada, ingin menyemai rasa cinta, menukar duka menjadi bahagia, melepas rindu pada tempatnya, adat berilmu taat setia, melangkah masuk penuh bergaya, agar dipandang hebat di mata dunia.


Semangat Lincah Gembira

Sadar Bertugas Mulia

Berbakti dalam Karya

Mahasiswa……

Universitas Indonesia Perlambang Cita

Berdasarkan Pancasila Dasar Negara

Kobarkan Semangat Kita Demi Ampera…


Samsul Kamil Osman

Baling,

11.55 pm

9 Ogos 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Kedua

Depok Dalam Lipatan Sejarah

Nukilan : Samsul Kamil Osman

Jakarta oh Jakarta…. Kota Metropolitan yang penuh dengan kepelbagaian, penuh dengan keunikkan, penuh dengan aneka ragam dan rencah kehidupan manusia. Jakarta “kota seribu harapan”, kota yang menjadi nadi kebangkitan bangsa Indonesia, kota yang menjadi mercu tanda permodenan bangsa Indonesia.

“Macet”….ayat pertama yang aku pelajari dari Pak Osman. Pak Osman merupakan orang yang populer di kalangan mahasiswa Malaysia yang menuntut di Indonesia, terutama anak-anak di Jakarta dan sekitarnya. Pak Osman…..nama yang sangat dekat dan mudah aku ingat….mungkin saja kebetulan namanya sama dengan nama abahku. Tapi tentu rakan-rakan yang lain juga setuju…tanpa pak Osman kita bisa saja mendapat musibah bila berurusan di ‘kantor’ Imigrasi untuk mengurus ‘KIM’S (kartu izin masuk sementara) yang sama tarafnya dengan visa untuk tinggal belajar di Indonesia. Pak Osman adalah orang pertama yang aku kenal apabila pertama kali menjejakkan kaki ke kota Jakarta. Masih aku ingat susuk wajahnya yang berkepala botak licin, tinggi lampai dan berbadan tegap.

Wisma Malaysia, Jalan Hos Cokroaminoto, Menteng….di sinilah untuk pertama kalinya kami berkumpul dan bersilaturrahmi. Inilah destinasi pertama kami setelah hadir menjadi tetamu kota Jakarta. Wisma Malaysia terletak di tengah-tengah kota Jakarta, menjadi pusat tumpuan pelajar Malaysia yang menuntut di Jakarta dan kota-kota lain di sekitarnya. Tak jauh dari Wisma Malaysia, letaknya Pasaraya Sarinah yang menjadi tumpuan sesiapa saja yang ingin berbelanja. Tak jauh dari Sarinah, terdapat pasar besar yang menjadi tumpuan untuk berbelanja secara borong iaitu ‘Pasar Tanah Abang’.


MONAS, merupakan mercu tanda kota Jakarta juga letaknya tak jauh dari Wisma Malaysia. Monumen Nasional ini punya keunikkannya yang tersendiri karena di mercu monumen ini dikabarkan diletakkan objek yang diperbuat dari emas tulen setinggi 15 meter. Tetapi di sini ada sesuatu yang lebih menarik lagi, terutama aktiviti malam minggunya…Malam minggu di sini menjadi tempat pesta yang sangat meriah…terutama bagi kalangan muda-mudi yang berminat mencari hiburan murahan. Pesta dangdut secara terbuka sehingga ke pagi…..sungguh meriah dan penuh bercahaya….Malam minggu menjadi menjadi sangat teruja dengan pelbagai gelagat pasangan baik muda maupun yang tua mendapatkan hiburan ‘gratis’, sambil melayan pasangan memadu asmara dari malam sampai ke pagi. Malam minggu merupakan malam untuk muda-mudi mendapatkan hiburan dan berpesta menikmati udara malam….’kencan bersama pacar’, istilah yang selalu disebut oleh anak-anak Jakarta.

Selain Wisma Malaysia, Jalan Budi Kemulian merupakan destinasi utama mahasiswa Malaysia ketika itu. Di sini terletaknya Jabatan Penuntut Malaysia di Jakarta, dan di sini juga terdapat beberapa bilik yang menjadi tempat penginapan beberapa mahasiswa Malaysia yang kuliah di sekitar kota Jakarta. Menariknya, letaknya tak jauh dari MONAS, tentunya menjadi sangat menarik untuk menumpang menginap di sini setiap hujung minggu.

‘Bajaj’…merupakan kenderaan yang sangat populer di kalangan mahasiswa yang berada di kota Jakarta. Bajaj merupakan teksi yang paling pantas, keunikkannya kerana diubahsuai dari motor ‘vespa’ menjadi kenderaan beroda tiga yang penumpangnya duduk di belakang. Sebelum menggunakan perkhidmatan bajaj, pengguna harus terlebih dahulu harus tawar-menawar tambang…di sinilah letaknya satu lagi keunikkan….kita harus menawar dengan berani supaya tidak dikenakan harga yang tinggi…Jakarta oh Jakarta……kota yang memberi seribu satu macam pengalaman. Hidup di kota Jakarta tidak seindah dan semanis seperti yang aku gambarkan sebelum menjejakkan kaki ke sini. Rasa semangat yang berkobar-kobar menjadi sedikit luntur, kata-kata yang penuh bersemangat menjadi sedikit mengendur, senyuman yang melebar menjadi sedikit hambar. Aku mula menjadi ragu-ragu….keresahan terus menyelubungi selepas dikabarkan kami akan dihantar ke kampus Universitas Indonesia yang letaknya bukan di Jakarta, tetapi di Depok.

Depok, Kota Madya yang terletak dipinggir Jakarta dan lebih tepatnya berada di perantaraan Jakarta dan Bogor di Jawa Barat. Hati ini menjadi sangat gusar, apakah cabaran yang bakal ku tempoh bila berkunjung ke Depok nanti. Melihat Jakarta saja sudah cukup sengsara….bagaimana pula untuk beradaptasi dengan Depok yang lebih jauh…..jauh sehingga tak dapat ku pastikan bagaimana rupa dan ragam kotanya…..Hanya satu harapanku….hati harus cekal, semangat harus kuat, cita-cita harus diutamakan….apa saja cabaran harus aku tempuh…kerana ini saja jalan yang aku ada…ini sahaja pilihan yang aku punya….UI aku datang, Depok aku tandang, apa saja akan aku tantang…asal kejayaan bisa ku bawa pulang……

Samsul Kamil Osman

Baling,

2.31 am,

8 Ogos 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Pertama

Depok Dalam Lipatan Sejarah

Nukilan : Samsul Kamil Osman

Hati ini sangat berdetik sekali untuk menulis.....tapi aku tidak pasti harus bagaimana untuk memulakannya. Tiba-tiba fikiran ini jauh melayang menerjah arus zaman yang telah berlalu dan aku fikir itulah kenangan terindah yang pernah aku lalui dalam sejarah perjalanan hidup ini....Benar....aku benar-benar yakin, perjalanan sebagai mahasiswa sebuah Universiti yang tersohor di tanah seberang merupakan satu-satunya kenangan yang terindah yang pernah aku miliki.....

Universitas Indonesia.....sebuah nama yang cukup besar bagi anak-anak bangsa Indonesia. Mendapat kesempatan menjadi mahasiswa UI....UI adalah nama keramat yang menjadi kebanggan bagi setiap mahasiswanya....Benar...mendapat kesempatan menimba ilmu di UI sudah merupakan satu kebanggaan yang sangat besar bagi setiap pelajar mahupun orang tua mereka di Indonesia...sama juga sepertinya diterima ke ITB di Bandung atau juga ke UGM di Jogjakarta...Sesungguhnya sangat sukar untuk digambarkan betapa bangganya setiap mahasiswa dan ibu bapa yang diterima di UI...

Aku juga sebenarnya antara mahasiswa yang sangat beruntung kerana berjaya ‘lolos’ masuk ke UI setelah berhasil mendapat nilai terbaik dalam Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UNPTN) yang diadakan di Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur. Sesungguhnya sesuatu yang tidak pernah aku gambarkan sebelumnya...aku terpilih untuk melanjutkan pelajaran ke sebuah Universiti yang sangat tersohor di Indonesia. Apapun aku sangat-sangat bersyukur, kerana hasrat ku untuk menjejakkan kaki ke menara gading akhir tercapai jua. Aku tambah beruntung lagi apabila ditawarkan melanjutkan pelajaran ke seberang dengan biasiswa Jabatan Perkhidmatan Awam (JPA) melalui “Program G to G” iaitu program pertukaran palajar di antara kerajaan Indonesia dan kerajaan Malaysia.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu....akhirnya impian aku untuk menjejakkan kaki ke Tanah Seberang akhirnya tecapai jua. Suasana menjadi sangat meriah dan penuh dengan kemegahan apabila kaum keluarga dan sanak saudara beramai-ramai menghantar anak-anak mereka ke Subang Airport, destinasi pertama sebelum kami menaiki pesawat MAS ke Jakarta. Dengan penuh segak, berpakaian kemas bertali leher, siap menyarung ‘baju kot’, tampak sangat bergaya sekali kami pada saat itu. Memang sangat sesuai kerana kami telah diiktiraf sebagai “duta kecil” yang akan mewakili negara ke negara Seberang, begitulah kata-kata yang diucapkan oleh pegawai dari JPA mewakili Kerajaan Malaysia yang turut menghantar kami ketika itu...

Pengalaman yang manis itu menjadi sangat luar biasa pada aku, kerana dalam sepanjang pengalaman hidup ku pada saat itu, itulah pertama kalinya aku menjejakkan kaki ke dada pesawat terbang. Sesuatu yang ku rasakan hadir seperti dalam mimpi, sesuatu yang tak pernah aku rasakan untuk mengecapinya sebelum-sebelum ini. Degup jantung semakin lama menjadi semakin kencang, apabila pesawat mula bergerak ke landasan untuk meluncur terbang. Hati ini ketika itu bercampur baur rasa gembira dan rasa takut....sama banyaknya..gembira kerana itulah pengalaman pertama terbang ke angkasa....takut kerana sudah banyak membaca cerita mengenai kemalangan pesawat....Dalam hati tak henti-henti berdoa semoga perjalanan ku akan selamat....niat suciku untuk menimba ilmu akan dapat terlaksana......

Jakarta oh Jakarta.....aku datang dengan semangat yang membara, dengan impian yang menggunung....akan ku terjah segala badai dan gelora, akan ku gapai segala hasrat dan impian.....mampukah aku mengharungi segala liku-liku ini.....tapi aku tetap bangga kerana aku telah menjejakkan kaki ku ke sini. Ternyata Jakarta tidak seperti yang ku gambarkan sebelumnya.....terlalu luar biasa....ragam manusia yang beraneka ragamnya....Kali pertama menjejakkan kaki ke kota Jakarta sudah cukup membuat hati gembira menjadi gusar, rasa berani menjadi kecut, suara garang menjadi lembut....lihat manusia menjadi takut....Apakah ini cabaran yang harus aku lalui.....mampukah aku melangkah terus atau berhenti... menyerah diri dan mohon kembali....mendengarkan bisikan senior ku yang menyambut di Bandara Sukarno-Hatta...mendengarkan alunan lagu “siapa suruh datang Jakarta”....hati ku menjadi tambah keliru...apakah jalan yang ku pilih ini tepat....tapi aku ingin sekali menjadi ‘Mahasiswa Universitas Indonesia”.....aku harus bangga menjadi anak ‘UI’...aku harus bangga karena berjaya menyarung ‘Jaket Kuning’ jaket keramat.....lambang perjuangan bangsa Indonesia....

5 Ogos 2011,