Thursday, 18 August 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Ke-13

Depok Dalam Lipatan Sejarah....

“Masih Adakah Cinta”


Terbangun saja tidur hari itu, aku rasakan satu semangat yang luar biasa sekali menyelusup ke dalam diriku. Sebelum ini aku tak pernah merasakan keadaan yang seperti itu. Aku sendiri tak pasti, apa sebenarnya yang sudah terjadi. Aku benar-benar tak pasti, mengapa saja pagi itu aku sangat bersemangat sekali. Pada hal, sebelum-sebelum ini, kalau saja untuk bangun pagi, memang sangat sulit sekali. Sampai ada ketikanya, Pak Niin terpaksa beberapa kali mengetuk pintu kamarku untuk membangunkan aku, kerana dia takut aku kesiangan ke kampus.

Tapi itu dulu, tidak lagi hari ini. Hari ini aku sepertinya sudah mendapat semangat baru. Semangat yang aku kira akan mengubah haluan hidupku....., mengubah matlamat dan tujuanku...., mengubah tingkah laku dan cara fikirku....., mungkin juga akan mengubah pandangan dan persepsi orang lain terhadapku.

Pagi itu, tidak seperti pagi-pagi biasanya. Aku bangun awal..., awal sebelum azan Subuh dilaungkan. Entah mengapa hari ini terlintas di fikiranku ingin menunaikan solat Subuh berjamaah di Masjid yang letaknya hanya beberapa meter dari kostku. Sebelum ini aku jarang-jarang dapat solat berjamaah di masjid, kerana selalu kesiangan bangun tidurku. Ada kalanya jangan solat jemaah, solat di kamar juga tak tertunaikan kerana bangun saja matahari sudah terpacak di kepala.

Tapi aku hari ini tak sama seperti aku sebelum-sebelumnya. Aku sepertinya sudah mendapatkan keinsafan diri. Hari ini aku melangkah ke masjid dengan pasti, supaya hidayah bawa perubahan dalam diri....mencari keberkatan merubah diri....sujud memohon semoga Allah s.w.t membukakan hati.....menunjukkan jalan mensucikan diri....agar lahir keikhlasan di dalam diri....barulah ilmu yang dituntut akan diberkati.

Pak Niin ku lihat seperti terkejut apabila melihat aku begitu rapi dengan kopiah putih menutup kepala, kemudian melangkah keluar kamar menuju ke masjid.

“Tumben kamu hari ini Sham, emang mimpi apa aje kamu tadi malem,” tegur Pak Niin seperti menyindir aku saja bunyinya.

“Atau saja bapak yang sedang mimpi kali iya,” lagi-lagi bapak menyindir aku.

“Assalamualaikum bapak, ayuh kita bareng ke masjid, udah azan tuh...,” aku menyapa bapak supaya dia tidak terus ‘ngeledek’ aku lagi.

“W’alaikumsalam, ayuh la Sham, kayak mimpi aja nih,” Pak Niin menjawab salam dan masih aja terus menyindirku.

Selepas solat berjemaah, aku mencapai naskah surah Yasin di rak untuk ku baca. Hati aku benar-benar rasa tenang, dadaku benar-benar rasa lapang sekali sebaik sahaja selesai membaca surah Yasin itu. Lalu aku memanjatkan doa, semoga Allah s.w.t memberikan petunjuk dan hidayahNya...., memberi aku kekuatan dan ketabahan..., memberi aku kejayaan dalam hidup dan juga pelajaran.

Hari ini keputusan peperiksaan semester yang lalu diumumkan. Hari ini akan menjadi penentu apakah aku akan terus melangkah dengan laju, atau saja tersekat-sekat dan tak menentu. Hari ini aku akan dapat mengukur keupayaan dan kemampuanku...Hari ini juga aku akan dapat menilai sejauhmana usaha dan kesungguhan belajarku.

“Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon kepadaMu..,kurniakan kejayaan untukku...,berkatilah segala usahaku..., limpahkan lah segala rahmatMu..., ceriakan aku hari ini dengan anugerahMu..,” bisik hatiku sambil berdoa kepada Allah s.w.t sebelum berangkat ke kampus.

Seperti hari-hari biasanya, pagi itu aku melangkah ke kampus sendiri. Teman-teman kostku masih tak ku dengar suara dan kelibat mereka. Mungkin saja mereka masih hanyut dibuai mimpi indah, apalagi kuliah masih belum bermula.

Melintasi Gang Papaya ke Stasiun UI, aku sempat menjeling melihat kost teman-teman dari Malaysiaku yang terletak di situ. Aku lihat di kost itu sudah sepi seperti penghuninya sudah keluar. Mungkin saja mereka sudah ke kampus lebih awal lagi. Memang sudah menjadi kebiasaan, anak-anak mahasiswa dari Malaysia di senangi oleh ‘dosen-dosen’ kerana ketepatan waktu mereka. Paling tidak itu sudah cukup menjadi citra dan contoh terbaik yang kami tunjukkan sebagai bukti bahawa mahasiswa dari Malaysia juga mempunyai kualiti yang tersendiri yang dapat dibanggakan.

Dugaan aku tadi benar, melintasi saja Stasiun UI aku terpandang Zali, Jalil dan Uzir berada tak berapa jauh di hadapanku. Mereka adalah senior-senior di jurusan Sejarah dan FSUI. Lalu aku kejar mereka dan kemudian kami jalan bersama-sama menelusuri denai yang merupakan jalan pintas untuk FSUI.

Kami sampai di Gedung 1 FSUI setelah kira-kira 15 minit berjalan menggunakan jalan pintas di Fakultas FISIP. Suasana di kampus masih biasa-biasa saja. Tidak ada suara riuh seperti musim-musim kuliah berlangsung. Mungkin saja anak-anak mahasiswa di sini tidak pernah pusing memikirkan soal nilai atau ‘result’ peperiksaan yang bakal diumumkan hari ini. Apa yang penting, mereka lulus dan boleh melanjutkan studi.

Jadi mereka tak perlu bersusah payah datang awal-awal untuk mengambil hasil ujian. Lagi pula pendaftaran mata kuliah semester baru hanya akan bermula minggu depan.

Aku terus saja ke ruang Jurusan Sejarah untuk mendapatkan keputusan peperiksaanku. Rupa-rupanya teman-temanku ada di antaranya sudah ada menunggu lebih awal lagi. Tapi sepertinya yang terpandang olehku hanya anak-anak ‘cewek’ saja, yang cowok’ masih entah di mana.

Terlihat wajah Fina sangat ceria. Aku pasti dia mendapat nilai yang cemerlang. Itu bukan hal yang mustahil, memang dari awal-awal lagi aku dapat melihat dia merupakan mahasiswa yang sangat rajin dan pintar. Apa lagi ayahnya juga seorang ‘dosen’ di jurusan kami, Pak Salleh Djamhari, dosen Sejarah ABRI.

Selain Fina, aku lihat Nita, Aria Sari, Cut Julia, Evi, Wiwin dan Riana juga menunjukkan raut wajah yang ceria dan gembira. Sudah cukup membuat aku merasakan mereka juga pastinya sama seperti Fina, dapat hasil keputusan yang baik. Cuma saja aku lihat, Adi Patrianto yang sedikit muram dan tawar senyumnya. Apa lagi waktu itu cuma dia satu-satunya anak ‘cowok’ yang ada di situ.

“Apa kabar Sam?,,Kamu tambah kurus aja,” tiba-tiba Fina menegur aku.

“Ayuh cerita, mengapa sampai kurus begini jadinya, libur di kampong itu seharusnya happy,” Fina masih aja penasaran seperti ingin mengorek rahsia dariku.

“Ndak lah Fin, aku biasa-biasa saja, memang dari dulu juga aku udah segini kurusnya,” aku cuba menjawab pertanyaan Fina.

“Sam, sebelumnya aku ucapkan selamat deh, nilai kamu lumayan baik lho, 3,1...sana ambil di Ibu Nana,” kata-kata Fina melegakan hatiku.

Mendengarkan kata-kata Fina itu aku terus ke meja Ibu Nana Marliana MA, Ketua Studi Program Sejarah FSUI.

“Selamat ya Samsul, satu permulaan yang baik, teruskan belajar dan mencari ilmu di sini,” Ibu Nana memberi ucapan tahniah sambil menyerahkan helaian kertas yang mencatatkan nilai ujianku.

Aku mendapatkan teman-teman yang lain sambil mengucapkan tahniah sesame sendiri di atas pencapaian masing-masing.

Tiba-tiba aku tergamam apabila melihat kelibat seseorang yang baru masuk ke ruangan jurusan. Aku sangat-sangat kenal kelibat siapakah itu. Seseorang yang sangat-sangat aku nantikan kedatangan dan kehadirannya. Seseorang yang aku tunggu untuk menjawab segala persoalan yang selama ini aku pendamkan.

Mataku memandang tepat ke arah wajahnya. Benar dugaanku, orang itu adakah Riries. Riries yang pernah menjadi teman penghibur hati..., Riries yang pernah menjadi penawar kepada rasa-rasa rinduku...., Riries yang dahulunya menjadi pujaan hatiku.

Aku biarkan saja Riries ke meja Ibu Nana untuk mengambil hasil ujiannya. Terlihat raut wajahnya sangat-sangat ceria di saat Ibu Nana menyerahkan hasil ujian tersebut. Aku juga dapat melihat Ibu Nana sepertinya melemparkan senyum tanda bangga dan gembira. Aku dapat menduga, pasti Riries dapat nilai terbaik dan tertinggi semester ini.

“Hai Sam, apa kabar...gimana kabar kampong halaman mu?” Tiba-tiba Riries mendekatiku dan bertanyakan kabar.

Aku menjadi sangat terkejut. Sepertinya tidak ada apa-apa yang berlaku dan terjadi di antara aku dan Riries. Teman-teman yang lain juga sepertinya memandang kami dengan penuh kesangsian. Mereka yang sebelumnya suka menyindir-nyindir kami, tiba-tiba hari ini cuma memerhati dan tak berkata apa-apa.

“Sam, kata Ibu Nana kamu dapat nilai yang lumayan bagus...selamat ya dari aku,” Riries memecah kebuntuanku dengan menghulurkan tangan mengucapkan tahniah di atas pencapaianku.

“Thanks Ries, “ aku jawab ringkas.

“Alhamdulillah Sam, nilai IPK ku 4,0...., lumayan,” Riries melaporkan hasil yang diperolehnya.

“Hebat, congrats Ries..., aku tumpang bangga punya teman seperti kamu,” aku melahirkan rasa gembira mendengarkan keputusan tertinggi yang dicatatkan oleh Riries.

“hari ini giliran aku ‘traktir’ kamu Sam, tapi kita makanya di ‘Balsem’ dekat FISIP aja,” terkejut aku bila mendegar Riries mempelawa untuk belanja aku makan.


‘Balsem’ adalah singkatan dari ‘balik semak’, tempat letaknya deretan gerai makan atau lebih tepat warung yang menawarkan pelbagai jenis makanan yang murah. Kerana lokasi letaknya warung ini di kawasan kebun ‘karet’(kebun getah) di belakang gedung Fakultas FISIP UI, maka singkatan ‘Balsem’ itu diberikan. ‘Balsem’ digunakan untuk memgambarkan lokasi letaknya warung-warung itu.

Jadi aku menerima pelawaan Riries itu dengan senang hati. Kebetulan aku sendiri belum sempat sarapan sebelum ke kampus tadi. Lalu kami ‘pamit’ dari teman-teman yang lain untuk jalan duluan. Teman-teman yang lain tidak ada yang mahu ikut, dengan alasan mereka sudah sarapan sebelumnya. Atau aku kira mereka saja memberikan peluang untuk aku dan Riries mempunyai waktu untuk berdua ketika itu.

Sampai di ‘Balsem’ aku memesan ‘mee ayam’ kesukaanku. Riries pula memesan gado-gado dan teh botol. Sambil menunggu pesanan siap, kami berbual-bual dan bertanya kabar tentang banyak hal.

“Sam, gue mohon maaf..., sebenarnya hari terakhir ujian lalu aku ‘buru-buru’ pulang, sehingga tidak sempat ‘pamit’ sama kamu,” Riries menjelaskan sebab mengapa di tidak dapat menemuiku tempoh hari.

“Gue tahu kamu marah, anak-anak lain juga bilang kamu kecewa waktu itu..., tapi gue benar-benar ada urusan mendadak..., sorry ya Sam,” Riries terus memberi penjelasan sebab tindakannya yang lalu.

“Ngak apa-apa Ries, gue aja udah lupakan semua itu, sudahlah...jangan dibahas lagi,” aku cuba memberi jawapan yang dapat melegakan hati.

Makanan yang kami pesan sudah berada di depan mata. Lalu kami menikmati keenakkannya sebelum melanjutkan perbualan. Entah mengapa hari itu aku berselera sekali menikmati ‘mee ayam’ yang aku pesan. Mungkin saja kerana aku sudah lama tidak keluar makan berdua dengan Riries.

“Elo mau ke mana saja selepas ini Sam? Aku tidak bisa lama-lama di kampus hari ini,” tiba-tiba Riries bersuara dan menyebabkan aku tersentap. Untung saja aku sudah selesai makan.

“Sebentar lagi, gue ada janjian sama teman SMA ku, kami ada acara ngumpul-ngumpul di Blok ‘M’,” Riries meneruskan penjelasannya kerana tidak dapat lama denganku hari ini.

“Sebenarnya masih banyak yang mau gue bicarakan sama kamu Ries, tapi mungkin di lain waktu aja,” jawabku dengan nada yang sedikit kecewa.

Kecewa kerana hasratku untuk mendapatkan penjelasan Riries tidak kesampaian...Kecewa kerana aku masih belum boleh mendapatkan penjelasan sejauhmana sebenarnya tahap hubungan kami ketika itu....Atau saja aku ingin sekali berterus terang untuk mendapatkan kepastian akhirnya dalam hubungan kami.

“Sam, ayuh...teman aku udah menunggu pastinya di ‘pakir’ Sastra, “rayu Riries mengajak aku segera meninggalkan ‘Balsem’ setelah Riries membayar makan kami tadi.

Lalu kami berjalan dan melangkah menuju ke Fakultas Sastra. Tiba-tiba aku terpandang seseorang cowok’ tampan dan sangat bergaya penampilannya melambai-lambaikan tangan ke arah Riries. Aku lihat wajah Riries menjadi sangat ceria dan membalas lambaian tersebut.

“Sam, itu teman SMAku, Aditya namanya, anak UI juga tapi kuliah di Salemba Fakultas Kedokteran,” Riries memperkenalkan temannya.

“Sam, kenalkan temanku Aditya...., Aditya.., kenalkan temanku satu jurusan Samsul , anak mahasiswa dari Malaysia,” Riries memperkenalkan Aditya kepadaku.

Kami kemudiannya bersalaman dan aku hanya melemparkan senyuman tanda perkenalan. Dari tingkah kemesraan antara Riries dan Aditya, aku dapat membayangkan mereka sebenarnya sangat dekat, sepertinya bukan hanya sekadar teman biasa.

Dugaan aku itu sebenarnya ada alasan yang kukuh. Apalagi aku lihat Riries sangat mesra sekali ketika dibukakan pintu ‘mobil’ oleh Aditya, sebelum mobil mewah BMW kepunyaan Aditya itu melucur laju meninggalkan fakultas Sastra. Melihatkan itu saja sudah cukup membuatkan aku merasa ‘kecil’ sekali ketika itu.

Akhirnya aku seperti sudah mendapat jawapan terhadap sikap dingin Riries terhadapku sebelum ini. Seperti aku duga, Riries sudah mempunyai pilihan yang aku kira sangat sesuai dan cocok dengan dirinya.

Tetapi sepatutnya aku juga tidak seharusnya berkecil hati dan merendah diri. Aku juga telah mendapatkan pilihan yang dapat mengisi kekosongan hati. Tiba-tiba aku terbayangkan wajah manis Ida...Betul, aku sudah ada Ida yang sememangnya juga selama ini aku telah lama menaruh hati.

Tapi....., aku tetap saja belum dapat memujuk hati....Aku masih lagi perlukan penjelasan Riries...Aku masih lagi perlu menyakinkan diri, apakah Riries benar-benar sudah tidak inginkan aku lagi?....Atau saja itu cuma helah diri.....supaya aku merasa sakit hati....atau Riries mempersiapkan diri....bila kau berubah hati...dia sudah ada pengganti...atau...atau...atau..., yang semuanya sebenarnya masih belum pasti.....

Aku masih harus menunggu lagi...Menunggu untuk melunaskan kekeliruan ini.....kini semuanya masih belum pasti....aku masih harus menanti dan terus menanti.....

Samsul Kamil Osman

18 Ogos 2011

Wednesday, 17 August 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Keduabelas

Depok Dalam Lipatan Sejarah...

“Bunga-Bunga Cinta Berputik Kembali”

Setelah hampir dua bulan berada di tanah air, berlibur panjang di kampong halaman, maka sampailah saat untuk aku balik lagi ke Depok. Esok aku sudah harus ‘terbang’ balik ke Jakarta, tepatnya balik semula ke kampus untuk meneruskan studiku yang belum selesai.

Seperti biasa, sebelum kembali meninggalkan kampong halaman, ibu akan membekalkan aku dengan pelbagai pesan dan nasihat. Pesan supaya anaknya tidak lupa asal tujuan, tidak lupa diri bila di perantauan. Pesan yang sangat terkesan, buat anak yang sangat diharapkan membela nasib keluarga di masa hadapan, peluang yang diberikan jangan sekali-kali dipersia-siakan.

‘Amen”, namuku disebut memulakan pesan, itu lah nama panggilanku yang sering ibu sebutkan.

“Kamu kena ingat, kita bukan orang senang..,pergi belajar itu pelajaran jangan sampai diabaikan...., di tempat orang jaga batas pergaulan.., amal ibadat jangan sampai tak dikerjakan...selalu ingatkan Allah jangan sampai dilupakan...,emak dan abah akan selalu mendoakan..., pulang nanti kejayaan yang kami nantikan,” itulah antara bait-bait pesan yang ibu titipkan, kata keramat yang tak pernah sekali-kali akan aku lupakan.

Tiba-tiba aku teringat Ida@Nurul Azida Zaini. Ida yang suatu masa dulu pernah aku impikan untuk dijadikan ‘buah hati’. Kawan baik yang selalu setia menjadi teman belajar sejak kami di tingkatan satu lagi. Aku masih ingat, perkenalan kami bermula sejak Ida sering datang ke rumah datuknya yang kebetulan berdekatan dengan rumahku di kampong. Sejak itu kami berkawan baik.

Mengingatkankisah persahabatan kami, memang banyak peristiwa yang menarik untuk dikenang yang pernah kami lalui bersama. Ida seorang pelajar yang pintar dan cergas di sekolah. Dia juga mempunyai kakak-kakak yang juga sangat pintar dan seingatku hampir kesemua kakak Ida berjaya melanjutkan pelajaran mereka ke luar negara.

Aku pada awalnya juga sangat dekat dengan Ida kerana dia banyak memberi tunjuk ajar dan mendorong untuk berjaya dalam pelajaran. Berkat persahabatan dan saling bantu-membantu dalam pelajaran, kami telah mencatat kejayaan yang cemerlang dalam peperiksaan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) masing-masing.

Tapi Ida lebih bernasib baik dari aku. Ida telah berjaya mendapat tawaran biasiswa JPA untuk mengikuti program ‘A’ Level dan seterusnya nanti akan dihantar menyambungkan pengajian ke United Kingdom. Aku sebaliknya meneruskan pelajaran ke tingkatan enam di Sekolah Menengah Clifford, Kuala Kangsar, Perak. Sejak itu hubungan kami menjadi dingin dan biasa-biasa saja.

Aku bernasib baik kerana kemudiannya ditawarkan melanjutkan pengajian ke peringkat Ijazah Pertama di Indonesia, atau tepatnya ke Universitas Indonesia. Manakala Ida pula meneruskan pengajian tahun pertamanya di Northern Consortium of United Kingdom, yang ketika itu berpusat di Institut Teknologi Mara (ITM) Shah Alam, Selangor.

Kami sekali lagi membawa haluan masing-masing dan menumpukan perhatian kepada pelajaran. Tetapi bukan satu yang mustahil, sebenarnya jauh di lubuk hati kami masih tersimpan perasaan yang terpendam. Terpendam sendiri-sendiri kerana malu untuk diluahkan. Mungkin saja saat itu masa tidak mengizinkan, maklum saja kami masih terlalu mentah untuk bercinta. Masih banyak perkara yang lebih penting lainnya yang harus kami fikirkan. Maka perasaan ini kami pendamkan begitu saja.

Kesempatan pulang berlibur kali ini memberi peluang untuk aku bertemu semula dengan Ida. Kebetulan Ida juga lagi sedang bercuti dan mempersiapkan diri sebelum berangkat menyambung pengajian tahun kedua di JohnMoores University, Liverpool dalam bidang ‘Computer Studies’.

Kesempatan dalam pertemuan semula itu membuatkan seperti masih ada bunga-bunga cinta yang masih berputik di antara kami. Cuma sepertinya, masing-masing masih tetap saja malu-malu untuk meluahkannya.

Petang itu aku sempat mengujungi Ida di rumahnya. Aku ingin ‘pamit’ kerana esok sudah harus berangkat balik ke Jakarta. Aku juga sebenarnya ingin mengucapkan ‘selamat berangkat’ ke Liverpool buat Ida. Ida akan berangkat meneruskan pengajiannya ke Liverpool minggu hadapan, seminggu selepas aku kembali ke Jakarta.

Dalam pertemuan itu, kami hanya saling menitipkan pesan dan menyampaikan nasihat sebagai tanda ingatan. Kami juga sama-sama melafaskan ikrar akan belajar bersungguh-sungguh untuk menjulang kejayaan. Itu memang sudah sejak dulu lagi menjadi impian kami bersama. Impian sejak kami di bangku sekolah lagi.

Ketika aku mohon diri untuk pulang, Ida sempat menitipkan pesan supaya dia aku tak lupakan. Apapun terjadi persahabatan harus diteruskan. Tetapi masing-masing masih tetap tidak berani menyatakan perasaan....perasaan sayang yang terpendam..., walau di wajah dapat membayangkan..., ada rasa cinta yang tak terdaya diucapkan.

Pagi itu hari nampak terang dan ceria. Ceria mungkin kerana semangat yang aku bawa. Semangat untuk kembali ke kampus tercinta dengan jiwa yang bahagia. Walaupun sebelumnya aku pulang ke tanah air dengan rasa sedikit kecewa. Kecewa ketika itu kerana tak dapat bersua dengan Riries yang sebelumnya sangat ku puja.

Tapi hari ini aku kembali dengan semangat yang baru. Kalau saja Riries menolak cinta, aku sudah ada cinta yang baru. Walaupun sebenarnya masih ada rasa ragu-ragu, tapi setidak-tidaknya aku tidak rasa haru-biru. Hati sudah dapat ku pujuk.....aku sudah punya semangat baru.

Tepat jam 3.00 sore waktu Indonesia bahagian barat (WIB), pesawat MAS MH3401 mendarat dengan selamat di Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Aku sempat menadah tangan berdoa, mengucapkan syukur pada tuhan yang Maha Esa...perjalananku selamat tanpa ada halangannya.

Selepas melepasi peperiksaan pegawai imigrasi dan ‘custom’, aku terus mengatur langkah berjalan menuju terminal bas ‘Damri’. Aku bernasib baik kerana kebetulan bas jurusan ke Depok sudah siap menunggu. Beberapa minit kemudian bas bergerak menyusuri jalan menuju ke kota Jakarta dan seterusnya ke Depok.

Setelah hamper empat jam di dalam bas..., satu jangkamasa yang aku rasa sangat lama. Lama kerana kesesakan jalan-jalan di kotaraya Jakarta yang penuh dengan beraneka ragam dan kerenah manusia. Kesesakan kerana jumlah kenderaan yang tak terhitung banyaknya..., menggambarkan juga jumlah penghuni kotaraya ini yang tak pernah pasti jumlah bilangannya. ‘Macet’ istilah yang memang sangat sinonim menggambarkan situasi, betapa jalan-jalan sangat sukar untuk ditelusuri. Melihat saja sudah cukup penat sekali, apa lagi kalau kita yang menangani situasi.

Akhirnya aku sampai juga di ‘kost’ tepat jam 8.00 malam. Satu perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Rasa penat terasa hilang bila melihat wajah-wajah ceria Pak Niin dan ibu Ami dengan senyum riang menyambut ketibaanku.

“Itu dia, anak perantauan kita udeh balek lagi ibu,” terdengar suara ceria Pak Niin menyambutku.

“Gimana kabarnya ibu di kampong nak Sam, baik-baik aja kan?” Sapa ibu Ami menanyakan kabar ibuku.

“Alhamdulillah, baik-baik aja bu, ayah dan ibu saya titip salam buat ibu dan bapak,” jawabku menyampaikan salam keluarga di kampong.

“W’alaikumsalam, syukurlah semuanya sehat-sehat saja,” jawab ibu Ami menyambut salam yang aku sampaikan.

“Ole-ole bapak mana Sam, masa cuma salam doang,” Tiba-tiba Pak Niin bersuara menanyakan ole-ole dari Malaysia untuknya.

“Sabar dulu knapa pak, Sam kan lagi capek itu, baru aja nyampe udah ditanya ole-ole,” sambuk ibu menegur Pak Niin.

“Ntar iya pak, nanti kalau aku sudah ngarapikan diri, ole-olenya aku kasi, ada kok,” jawabku memujuk Pak Niin.

‘Canda aja, kalau ngak ada juga ngak apa-apa, yang penting kamu selamat balik lagi,” suara Pak Niin seperti merajuk kedengarannya.

Entah mengapa kali ini aku merasa sangat senang sekali dapat balik lagi ke Depok. Perasaan itu tidak sama ketika aku ingin balik berlibur ke kampong dulu. Mungkin saat itu aku diburu perasaan tidak menentu kerana tidak dapat bertemu Riries untuk ‘pamit’..Sedangkan hari ini aku sangat senang kerana dalam liburan yang lalu aku telah bertemu kembali Ida.. Ida, si gadis yang comel, berkulit hitam manis...seorang yang pintar dan yang lebih penting memang sejak dari zaman sekolah lagi aku sudah menaruh hati padanya.

Esok aku akan ke kampus....

Esok nilai hasil peperiksaan semester yang lalu akan aku dapatkan...

Esok juga aku akan dapat bertemu semula dengan Fina, Nita, Wiwin, Nita, Ipong, Aria Sari, Evi, Edo, Chiq, Wanto, Chandra, Irwan, Kamal, Ifyani, Bingar, Rudi, Andi, Adi, Pongky, Hamid, Mat Zain dan tentu sekali Riries....

Esok juga barangkali aku akan bertemu Riries untuk kepastian....

Semoga saja esok akan membawa sinar harapan...

Sinar yang akan membawa seribu kebahagiaan....

Sinar yang akan mengubah pendirian....

Apa saja yang terjadi hidup harus aku teruskan...

Memburu kejayaan menzahirkan impian...

Menjulang kecemerlangan...

Merangkul kemenangan.


Samsul Kamil Osman

17 Ogos 2011.

Tuesday, 16 August 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Kesebelas

Depok Dalam Lipatan Sejarah.... Siri Kesebelas

‘Hujung Musim Akhir Semester’


Suasana di kampus pagi itu masih sepi. Sepi tak seperti biasanya, sepi dari suara-suara teriakan melepaskankan rasa gembira, sepi dari suara-suara nyanyian menghibur lara, sepi kerana masih belum ada suara yang melafaskan puisi menyuarakan rasa, sepi kerana ruang-ruang kuliah masih kosong tanpa kelibat penghuninya.

Keadaan yang ku lihat ini benar-benar mengejutkan. Apakah kerana musim peperiksaan akhir semester atau saja, mahasiswanya sudah ‘capek’ belajar tanpa hentinya, atau juga semuanya sudah siap menunggu libur yang hampir menjelma. Sebentar lagi libur panjang tentunya dapat pulang bertemu keluarga, tinggalkan kampus sepi seketika.

Pagi itu juga aku tidak seperti biasanya. Menjadi pengunjung pertama di kampus tercinta. Hari itu aku rasa benar-benar siap dan sedia menghadapi apa saja. Apa saja yang bakal ditanya....menulis semula semua ilmu yang telah aku terima, penuh yakin kerana aku telah berusaha. Di samping itu aku turut panjatkan doa, semoga tuhan mempermudahkan jalan-Nya, soalan ditanya tidak sesusah mana, dapat ku jawab dangan sempurna.

Jarum jam di tangan menunjukkan tepat jam 7.45 pagi waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Suasana di kampus yang tadinya sepi telah kembali menjadi riuh seperti semula. Gelagat anak-anak mahasiswa mempelbagaikan aksi-aksinya....ada yang mengusung buku, nota dan macam-macam yang ada.....Ada juga yang berbicara tanpa ada temannya....ada yang duduk ‘dipojokan’ buku dibaca....ada yang muram entah kenapa, ada yang ‘selamba’ macam tak ada apa-apa.

Sebentar lagi, tepatnya jam 8.00 pagi peperiksaan akan bermula. ‘Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1, peperiksaan bagi Mata Kuliah Umum (MKDU). Merupakan peperiksaan kertas yang terakhir penutup semester. Untung saja peperiksaan bagi mata kuliah umum ini diletak di hujung acara. Paling tidak aku dapat lebih bersedia. Apa tidaknya, sangat banyak yang harus aku baca, dari zaman purba hingga modennya bangsa. Pula lagi kupasannya sejarah kebudayaan Indonesia. Tapi untung saja aku mempunyai teman-teman yang sedia bersama, membantu dalam apa jua ketika. Jadi akhirnya yang sukar tak menjadi apa-apa, ilmu ditimba menjadi sangat berguna...membina dan memperdalam pengetahuan yang ada, khususnya memahami sejarah budaya bangsa.

Wajah-wajah kemesraan anak-anak Sejarah FSUI Angkatan '89

Kurang 10 minit sebelum peperiksaan bermula, aku dan teman-teman berkumpul bersama seketika. Kami berkumpul dan berdoa bersama-sama supaya dipermudahkan jalan kami nantinya. Aku, Mat Zain, Fina, Aria Sari, Riries, Ipong, Nita, Ifyani dan beberapa lagi yang aku tak pasti, khusyuk mengaminkan doa yang dibacakan oleh Mustaffa Kamal selaku ketua Angkatan Sejarah 89. Sebelum melangkah masuk ke dewan, kami saling mengucapkan selamat sambil memberi kata semangat, semoga semua soalan dapat dijawab.

Masuk ke dewan peperiksaan dengan penuh keyakinan. Memang dari awal-awal telah kami rencanakan, mendapatkan posisi meja yang saling berdekatan dan bersebelahan. Itu adalah antara ‘strategi’ berada di dewan, supaya bantuan mudah ‘disalurkan’, bila ada antara teman-teman yang ada masalah. Aku masih ingat lagi, strategi itu kami namakan ‘posisi menentukan prestasi’. Aku yakin sekali istilah ini masih segar dalam ingatan teman-temanku.

Tepat jam 10.00 pagi, petugas yang mengawasi peperiksaan memaklumkan masa menjawab sudah selesai. Semua mahasiswa diminta meninggalkan dewan. Aku melihat berbagai gelagat dan riak wajah yang berbeda. Ada wajah suka, duka, gembira, puas dan tidak kurang ada juga yang seperti menitiskan air mata. Tapi itu sudah menjadi perkara biasa, lumrah mahasiswa habis menghadapi peperiksaan.

Bagi aku sendiri, rasanya sangat puas kali ini. Aku dapat menjawab dengan tenang dan penuh pasti. Apa lagi aku telah cukup bersedia mengulangkaji, ditambah lagi dengan bantuan teman-teman yang sangat memahami. Teman-teman selalu membantu aku untuk lebih mengerti isi ilmu yang dikaji. Terima kasih Fina, terima kasih Nita, Evi, Aria dan tentu sekali Riries ‘si buah hati’...terima kasih kerana kalian sangat baik hati.

“Gimana Sam, bisa dijawab dengan success ngak?,” Aku mendengar seperti suara Fina bertanya dari belakang. Aku menganggukkan kepada sambil melemparkan senyum tanda berpuas hati.

“Kamu pasti boleh Sam, elo kan anak yang pinter, anak kebanggaan negara mu,” Fina terus bersuara seperti memuji aku mendengarnya.

“Tidak lah Fin, gue biasa-biasa saja, cuma kalian yang banyak membantu gue belajar, jadi harus berterima kasih sama kalian,” aku bersuara merendah diri.

Mataku menjadi liar....liar mencari-cari. Sejak keluar dari dewan peperiksaan tadi aku belum dapat pastikan ke mana perginya kelibat Riries ‘si buah hati’.

“Kamu lagi nyari siapa saja Sam, kok matanya jadi liar seperti itu,” Riana menyapa seperti memahami apa yang sedang berlaku.

“Pasti kamu lagi nyari Riries ya?...Mengaku aja lah....udah ‘kangen’ ya?,” Riana seperti menyindir aku.

Aku sendiri sebenarnya tidak pasti, mengapa sejak kebelakangan ini Riries sudah mula menghindar dan menjauhkan diri. Apakah ejekkan teman-teman membuatkan Riries sudah tidak lagi merasa selesa denganku? Atau saja ada tutur kata dan tingkah laku aku yang telah menyinggung dan mengguris hati kecilnya.

“Sam, liburan panjang ini kamu mau ke mana saja? Ayuh kita liburan ke Bali, di sana asyik lho,” tiba-tiba aku mendengar suara Adi Patrianto mempelawa aku untuk ikut bercuti bersamanya ke Pulau Bali.

“Kalau mau liburan itu jangan perginya sama Riries aja deh, sekali sekali ikut ‘main’ sama anak-anak lain juga Sam,” Adi terus bersuara seperti menyindir aku saja nadanya.

“Tidaklah Adi, libur kali ini aku harus pulang ke Malaysia, aku sudah janji sama keluarga, mau pulang ke kampong,” aku cuba memberi jawapan yang dapat memuaskan hati Adi Patrianto. Sekaligus dengan cara yang baik menolak pelawaannya.

Tetapi aku tetap saja terus tercari-cari.......mencari tahu ke mana saja Riries menghilangkan diri. Apakah dia tidak tahu, hari ini aku harus berjumpa dengannya. Aku harus ‘pamit’ kerana esok aku sudah harus ‘terbang’ balik ke Kuala Lumpur.

“Riries, ke mana saja kau, aku sudah penat mencari,” bisik hatiku seperti merintis.

Aku menjadi sangat tidak pasti. Apakah Riries sudah berubah hati...Apakah diriku sudah tidak mahu ditemuinya lagi....atau saja dia sudah merajuk hati. Merajuk bila mengetahui aku mahu pulang ke kampong halamanku, tinggalkan dia berlibur sendiri.

Aku cuba memujuk hati...mungkin saja Riries ada masalahnya sendiri....mungkin juga dia mahu cepat-cepat pergi.....supaya tak berat melepaskan aku nanti. Tentu saja kembalinya aku nanti ke tanah air membuatnya tak pasti....Mungkin saja dia takut aku berubah hati...

Atau saja dia sendiri sudah punya pilihan hati.....semuanya menjadi semakin tidak pasti...selagi Riries tak dapat ku temui....

Esok pagi-pagi aku sudah harus berangkat ke Bandara Sukarno-Hatta. Itu bermakna Riries dan kampus akan ku tinggalkan untuk seketika. Wajah ayah bonda, keluarga dan sanak saudara sudah terbayang bermain di mata. Tentu saja dapat kembali bersua, melepaskan rindu walaupun seketika, tapi sudah cukup untuk mengubat rasa.

Tetapi kampus....aku akan datang semula. Ilmu ku tuntut belum lagi sempurna...masih ada lagi yang tersisa, bertahun-tahun lagi, masih sangat lama. Tapi aku akan terus berusaha, menuntut ilmu aku tak akan leka. Nama akan ku julang ke mercu jaya.


Samsul Kamil Osman

Teratak Shamida

16 Ogos 2011

Monday, 15 August 2011

Catatan Perjalanan Mahasiswa UI - Siri Kesepuluh

Depok Dalam Lipatan Sejarah.... Siri Kesepuluh

“Bunga-Bunga Cinta Kampus’

Pagi itu langit diselimuti oleh awan-awan hitam yang menampakkan suasana suram. Entah mengapa aku juga ikut menjadi lesu, longlai dan lemah tak berdaya. Ditambah pula dengan kedinginan pagi seolah-olah menjerut dan memelukku untuk terus berbaring. Rasa malaspun datang menyambar diri, membuatkan aku terus manarik selimut melanjutkan mimpi.

Suasana pagi yang sebegini sepertinya membawa fikiranku jauh melayang. Dalam otak kecilku berkecamuk, bercelaru dengan pelbagai persoalan yang aku sendiri tak tahu apa ada jawapannya.

“Sudah, hari ini tak payah ke kampus....siapkan tugasan di kost saja lah...,” bisik hati kecilku memujuk.

‘Tapi aku dah janji dengan teman-teman, aku dah janji dengan Riries....tidak...tidak...aku mesti ke kampus...jangan malas..jangan malas...,” hati kecilku terus berbahas mencari jalan keluar.

Entah mengapa sejak kebelakangan ini, wajah Riries selalu bermain di kotak fikiranku. Apakah ini yang dikatakan jatuh cinta. Apakah aku sedang dipanah asmara sepertiLaksmana dan Sita Dewi’ dalam Hikayat Sri Rama dan Mahabrata.

Memang, sejak pulang berlibur dari Puncak tempoh hari, aku telah terbawa-bawa oleh perasaan yang tidak menentu. Mungkin saja mengalami pengalaman pertama berspeda motor berdua, jalan bergandingan berpegangan tangan tak ubah lagaknya seperti pasangan bahagia. Lagak pasangan yang memadu kasih berjanji setia.

Aku masih ingat dan sangat menghayati bait-bait kata puitis yang Riries ucapkan tempoh hari....” Seandai saja aku bisa memilih saat ini,......pilihan aku itu adalah kamu,....seandai saja aku bisa melukis....lukisan itu adalah potret wajahmu,....seandai aku bisa menulis....coretan puisi itu khusus untuk mu,....dan seandainya saja kau dapat ku pilih....seluruh hidup ini ku serahkan pada mu,” suara halus dan lembut Riries ketika melafaskan bait-bait kata ketika kami berada di halaman ‘Rindu Alam’ Puncak, malam itu menggetarkan seluruh hati dan jantungku. Aku menjadi kaku dan bisu tak bisa berkata-kata saat itu. Indahnya kata-kata itu dan akan terus ku ingat menjadi memori terindah dalam diari hidupku.

Mendengarkan kata-kata yang lahir dari suara manja Riries, sampai-sampai aku tak mampu lagi untuk menghidupkan ‘engine’ speda motor Yamaha RD250LC keluargan tahun 1981 yang aku pinjam dari Irwan Firdaus. Ternyata sepertinya ‘engine’ motor itu juga turut tersentuh dan sangat merasakan sekali saat-saat ‘romantis’ sehingga tak inginkan ianya cepat berlalu pergi. Aku harus sekali mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Irwan yang sanggup meminjamkan speda motor kesayangannya itu. Mana tidaknya, atas jasa baik Irwan itu, akhirnya aku dapat menawan hati Riries.

“Ayuh Sam, mau ke Puncak itu kalau berdua sama cewek asyiknya naik motor, ayuh...bawa aja Riries pake aja motor gue, supaya lancar,” tentu saja tawaran Irwan itu langsung aku terima dengan senang hati. Ternyata rasa baik hati Irwan sangat ‘berbaloi’. Aku dilamun keasyikkan..menelusuri hari-hari yang berlalu, berspeda berdua ternyata sangat ‘romantis’. Melewati masa yang tak pernah aku rasakan bahawa sebegitu pantas berlalu bergerak mengikut waktu.

Tiba-tiba lamunan ku yang jauh melayang itu tersentap. Aku lantas melompat bangun dari katil apabila teringat janji bertemu di perpustakaan untuk menyelesaikan tugasan. “Aku pasti 'dikroyok' anak-anak nanti, mati aku,” hatiku berbisik sendiri.

Aku baru ingat, tugas kumpulan dari Pak Lariesa ( Almarhum Prof. Dr R.Z. Lariesa) itu harus disiapkan hari itu juga. Besok tugasan itu sudah harus dikumpulkan dan diserahkan di jurusan. Mesti aku akan dihamun oleh teman-teman nanti, apalagi aku ‘telat’ memenuhi janji.

Sebenarnya sudah menjadi kebiasaan mahasiswa di sini, kalau dapat tugasan tak langsung dikerjakan. Selalu tugasan itu ‘diulur-ulur’ masanya untuk diselesaikan. Itu dah jadi ‘tren’, biasanya bila dah di hujung ‘tanduk’ baru asyik dikerjakan. Mungkin itu fenomena mahasiswa seperti kami yang sukakan cabaran. Mana taknya, menyiapkan tugasan di saat-saat akhir sungguh mencabar. Bila sibuk menyiapkan tugasan sampai lupa makan dan minum, tidur apa lagi....buku bersepah dan bertaburan...duduk di kampus tak ingat nak pulang...mengejar untuk selesaikan tugasan sebelum batas jam yang terakhir diserahkan.

Seperti yang ku duga sampai saja di kampus, teman-teman sudah lama menunggu. Terlihat kelibat Riries, Fina, Evi, Wiwin, Riana, Nita, Ipong, Irwan, Kamal, Ifyani, Mad Zain, Bingar, pokoknya semua ada kecuali aku saja yang terlambat datang. Melihat kelibat aku datang seperti ‘lipas kudung’, mereka semua sudah tersenyum. Senyuman itu seolah-olah mereka tahu apa saja alasan yang akan aku berikan nanti. Sebelum aku membuka mulut untuk melafaskan kata-kata, semua teman-teman sudah pada ketawa.

“Sudah lah Sam, kamu ‘telat’ pasti sebabnya kelamaan mengelamun kan?...lalu kesiangan bangunnya,” Irwan bersuara mempersendakanku.

‘Gue tau apa sebabnya....anak Malaysia yang satu ini udah jatuh hati sama cewek Jakarta....cinta pandang pertama,”..giliran Bingar pula ‘ngeledek’ dan mempersendakan aku sambil disambut dengan gelak ketawa oleh teman-teman yang lain. Ketawa teman-temanku itu kedengarnya sehingga menggamatkan suasana di kantin FSUI.

“Ada yang tau ngak...siapakah gerangan si gadis bertuah itu?,” Giliran Wanto pula menyindir aku sambil menjeling ke arah Riries.

Aku dan Riries hanya mampu melirikkan senyum sambil tunduk dan tersipu-sipu malu.

‘Enak kamu Sam, ke Puncak naik speda motor, berdua lagi...ayuh lah cerita...jangan malu-malu,” giliran Nita pula cuba mengorek rahsia aku dan Riries.

Sepertinya hari-hari yang berlalu penuh dengan tawa dan riang gembira teman-teman mengusik aku dan Riries. Sepertinya juga mereka semua sudah dapat melihat keakraban hubungan kami berdua. Aku sendiri sebenarnya juga sudah merasakan sangat bahagia sekali. Apa lagi dapat mendekati dan hampir-hampir memiliki ‘buah hati’ yang cantik dan manis sekali.

Tapi yang pasti akan ada yang merasa cemburu dan tidak senang hati nanti. Melihat aku dan Riries mesra sekali, seperti sepasang sejoli, ke mana pergi tak pernah sendiri.

Apakah ini namanya cinta?...Bila bersama sungguh tak terasa...hidup jadi sangat bermakna...merasakan diri berada di syurga....

Samsul Kamil Osman

15 Ogos 2011